Jumat, 19 Oktober 2012


 Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi susu dan komposisinya digolongkan ke dalam dua kelompok yaitu ; faktor dalam (internal) dan faktor lingkungan (external)
Faktor dalam (faktor ternak) 
1.      Bangsa (breeds)
2.      Faktor Individu
3.      Faktor Keturunan (Genetik)
4.      Faktor UmuràPeriode Laktasi
5. Faktor Lama Laktasi
6. Faktor Kebuntingan (Gestation)
7. Faktor Siklus Estrus8.  Faktor Hormonal

Faktor Lingkungan (Faktor luar)
1.      Faktor musim
2.      Faktor Frekuensi Pemerahan
3.      Faktor Kecepatan Pemerahan
4.      Faktor Pergantian Pemerah
5.      Faktor Makanan
6.      Faktor Obat-obatan
7.      Faktor Penyakit


Beberapa konstituen di dalam air susu hampir selalu ditemukan dalam proporsi yang sama/tetap pada setiap jenis ternak, walaupun kondisi ternaknya berbeda. Faktor utama yang dapat meningkatkan komposisi susu adalah jumlah air susu yang diproduksi oleh ternak tertentu yang sedang diperah.persentase lemak susu dapat bervariasi sampai 30 % tanpa penyebab yang jelas (Bath et. Al., 1978).
            Komposisi dan jumlah produksi susu khususnya pada sapi perah, adalah merupakan hasil interaksi dari banyak faktor di dalam tubuh ternak perah (faktor internal) dan faktor lingkungan sapi yang bersangkutan (faktor external).
Komposisi Air Susu.
            Air susu mengandung tiga komponen utama yaitu laktose, kasein dan lemak, disamping mengandung bahan-bahan lainnya seperti air, mineral, vitamin dan lain-lainnya dengan konsentrasi yang berbeda-beda.
1.      Kolostrum.
            Kolostrum adalah air susu yang diproduksi pada hari pertama sampai hari ke 5 setelah melahirkan. Total komponen bahan padat, protein, dan abu dalam kolostrum lebih tinggi dibandingkan dengan komponen tersebut di dalam air susu yang diperoleh pada minggu 2 – 3 setelah melahirkan.
2.      Pengaruh Musim.
            Musim saat sapi melahirkan sangat mempengaruhi total produksi susu per laktasi dan komposisinya, yang merupakan pengaruh dari kombinasi dari breed, tingkat laktasi, kondisi klimatologi pada saat pencatatan dilakukan, dan perbedaan-perbedaan dalam managemen pakan. Sapi-sapi yang melahirkan pada musim basah (hujan) biasanya memproduksi susu lebih tinggi dari sapi yang melahirkan pada musim lainnya.
3.      Temperatur Lingkungan.
            Efek dari temperatur lingkungan pada jumlah produksi susu dan komposisinya tergantung dari bangsa ternak. Produksi susu tidak dipengaruhi oleh perubahan suhu lingkungan antara 400 F dan 700 F. Kadar lemak susu, Kadar SNF dan bahan padat serta Kandungan chloride meningkat dengan menurunnya temperatur lingkungan menjadi 750 F sedangkan kadar laktose menurun dengan adanya peningkatan temperatur lingkungan.
Cobble dan Herman (9) menemukan bahwa penurunan produksi susuterjadi pada temperatur lingkungan diatas 800 F dan persentase kadar lemak susu meningkat pada temperatur diatas 900 F , sedangkan Persentase SNF menurun.
4.      Penyakit.
            Penyakit mastitis menyebabkan jumlah produksi susu maupun komposisi susu menurun.California Mastitis Test (CMT) membandingkan salah satu quarter ambing yang menghasilkan air susu yang tidak normal dengan quarter yang berlawanan pada sapi yang sama yang mempunyai hasil CMT yang negatif. Susu sapi yang terkena infeksi mastitis mempunyai kandungan lactose dan potassium yang lebih rendah dan sodium; chlor yang lebih tinggi dari sapi yang sehat. Selama sapi terinfeksi mastitis, kandungan globulin susu, kandungan serum albumin dan protease juga ada peningkatan. Sedangkan kandungan kaseinnya menurun.
Waite dan Blakcburn (74) susu yang mempunya bakteri lebih dari 1000.000/ml akan menyebabkan produksi dan komposisi susunya menurun.
5.      Kondisi Ternak Pada Saat melahirkan.
Lebih lama sapi itu dikeringkan berarti memberikan sapi tersebut kesempatan lebih lama untuk mengembalikan kondisi tubuhnya sebelum datang periode laktasi berikutnya dapat meningkatkan produksi susu dan lemak susu pada periode laktasi berikutnya. Pendapat ini direview oleh Schmidt dan Schultz (63).
6.      Kualitas dari Nutrisi.
            Sapi perah yang mempunyai produksi susu rendah dapat ditingkatkan produksi susu dengan memberikan ransum yang kandungan energinya ditingkatkan (53), Warner (76) , Laben (33) dan Rook (55).

7.      Level protein dan lemak dalam ransum
            Peningkatan level protein di dalam ransum di atas standar normal telah mempunyai efek yang positif terhadap jumlah produksi susu dan hanya sedikit dapat mempengaruhi peningkatan kandungan NPN dalam susu (55),
            Penambahan lemak sebanyak 2 pond dari jumlah standar/normal dalam ransum sapi perah menyebabkan gangguan pada pencernaan sapi perah dan menyebabkan sapi perah tersebut kehilangan nafsu makan dan penurunan jumlah produksi susu.
8.      Perubahan-perubahan dalam ransum.
Sejumlah perubahan-perubahan dalam ransum sapi perah menyebabkan penurunan dalam persentase lemak susu. Hal ini telah direview oleh Elliot (13) dan Warner (77). Salah satu temuan terakhir bahwa pemberian ransum dengan konsentrat yang tinggi dan hijauan yang terbatas menurunkan kadar lemak susu.
 Van Soest (72) membuat suatu ringkasan beberapa factor  yang menyebabkan penurunan kadar lemak susu dan teorinya telah digunakan untuk menerangkan penurunan tersebut. Teori pertama adalah kekurangan produksi asam asetat di dalam rumen untuk mensintesa lemak susu disebabkan oleh perubahan/pergantian permentasi di dalam rumen. Teori kedua adalah adanya keterlibatan penurunan jumlah β hydroxybutyric acid (sejenis asam butirat) di dalam darah. Asam ini diambil oleh kelenjar susu dan digunakan untuk pembentukan lemak susu. Teori ketiga adalah renpon glucogenic selama terjadinya produksi asam propionat yang tinggi menekan mobilisasi lemak dari jaringan tubuh dan hal ini menyebabkan penurunan penyediaan lipid di dalam darah untuk sitesa lemak susu. Baldwin dan teman sekerjanya (3; 45) menyetujui konsep ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar